Apa tujuan shalat? Allah SWT telah menunjukkannya kepada kita: “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS [20]: 14)
Lantas, apakah di dalam shalat, sebaiknya hati kita kosong dari
segala sesuatu kecuali Allah? Ketika kita bershalat, mestikah kita
hilangkan semua pikiran selain Allah? Di dalamnya, haruskah kita abaikan
masalah yang sedang kita hadapi?
Terhadap tiga pertanyaan tersebut, ada banyak buku mengenai cara
shalat khusyuk yang menjawab: “Ya, ya, ya.” Di antara mereka, ada yang
menceritakan seseorang yang begitu “khusyuk” bershalat, sehingga ketika
tiang masjid tempat shalatnya rubuh, ia diam saja dan terus bershalat
sebagaimana biasanya. Mereka pun mengabarkan adanya seseorang yang terus
saja bershalat, padahal lantai gedung tingkat dua sedang terbakar.
“Bahkan ketika banyak orang berteriak memanggilnya, orang itu tetap
dalam shalatnya.”
Akan tetapi, saya tidak setuju dengan cara shalat seperti itu.
Jawaban saya: “Tidak, tidak, tidak!” Saya khawatir, orang yang bershalat
seperti itu terlalu khusyuk, sedangkan segala yang berlebihan bukanlah
kebaikan lagi. Berikut ini sebagian dari alasan saya.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya bila aku bershalat dan
bermaksud memperpanjangnya lalu kudengar suara tangisan anak, maka
kupercepat shalatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu
oleh tangisan anaknya itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Ini jelas menunjukkan, hati beliau tidak kosong dari segala sesuatu
(selain Allah). Di dalam shalat pun, Nabi saw. menaruh perhatian besar
pada lingkungan.
Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya aku merencanakan penyiapan pasukanku ketika aku sedang bershalat.” (HR Bukhari)
Ini jelas menunjukkan, kita tidak harus menghilangkan semua pikiran
(selain Allah). Di dalam shalat pun, ada kalanya kita sebaiknya
memikirkan masalah yang sedang kita hadapi.
Kalau begitu, apakah Anda saya anjurkan melupakan tujuan shalat
(yaitu “untuk mengingat Allah”)? Juga tidak! Alih-kita, sebaiknya kita
mengingat Allah dan sekaligus memikirkan atau merasakan masalah yang
sedang kita hadapi. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku
membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. [Satu
untuk-Ku, satu untuknya.] Dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia
minta.” (HR Muslim)
Atas dasar itu, di dalam shalat sebaiknya kita kaitkan kebutuhan kita
dengan satu atau beberapa sifat Allah yang tercakup dalam Asmaul Husna.
Umpamanya, tatkala kita bershalat dalam keadaan merasa tak berdaya
lantaran “terlanda badai setinggi gunung” (tertimpa musibah, bangkrut,
terjangkit penyakit berat dan tak kunjung sembuh, dsb.), kita bisa
mengingat-ingat bahwa Allah itu Maha Penolong (al-Waliyy).
Di dalam shalat itu, bacaan Al-Qur’annya pun bisa kita sesuaikan
dengan kebutuhan dan tujuan shalat kita. Salah satu contohnya adalah
seperti yang disarankan oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam
artikel “Kiat Salat Khusyu”:
Pilihlah surat yang paling dimengerti dan yang berkaitan dengan
kebutuhan kita, karena ini pun akan membantu kita lebih khusyu. Misalnya
surat Al-Baqarah ayat terakhir atau surat al-Insyirah bisa dibaca
ketika kita sedang menghadapi ujian karena isi surat tersebut harapan
dan doa agar tidak diberi musibah yang berat serta keyakinan akan
datangnya pertolongan Allah sesudah kesulitan.
Dengan membaca surat yang sesuai dengan kebutuhan kita, bukankah kita
menjadi tidak semata-mata mengingat Allah, tetapi sekaligus
mengaitkannya dengan masalah yang sedang kita hadapi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar