Armageddon akan terjadi, bukan karena Allah SWT; tetapi karena ego
kalian, yang tidak pernah puas. Satu kata dari Rasulullah sallAllahu
alaihi wassalam memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi,
“Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak membawa manfaat
kepada orang yang bersangkutan, atau bagi kemanusiaan. Aku juga
berlindung kepada Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan
kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain.” Semoga Allah
mengampuni kita. Kata-kata doa ini adalah sesuatu yang penting.
Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda, “Aku datang untuk
menghilangkan karakteristik buruk ego manusia. Aku datang untuk
menyandangkan kalian dengan kualitas terbaik, nilai terbaik, pakaian
terbaik kalian, sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan
Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga.”
Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi kalian. Jika kalian
tidak mengenakan pakaian itu, kalian akan diusir, karena ego kalian
tidak pernah merasa cukup. Dan Neraka juga akan berkata, “Wahai Tuhanku,
jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar mereka dikirimkan kepadaku.
Kirimkanlah padaku orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan
temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada levelku.”
Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah orang untuk
bersikap patuh menjadi hancur. Jangan dikira bahwa itu semua terjadi
demikian-bahwa mereka mendobrak pintu Bastille. Itu adalah peristiwa
simbolik bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk mengeluarkan semua
orang yang tidak patuh, yang tidak pernah menundukkan dirinya kepada
Allah Azza wa Jalla. Dan Kerajaan ini mewakili Kerajaan Allah di bumi.
Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci, bahwa setiap
bangsa sejak awal hingga 1789 masing-masing mempunyai seorang Raja,
orang-orang menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat
kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara tidak langsung patuh
terhadap Tuhan Pemilik Surga. Tetapi ketika dinding pemisah antara
rakyat dan Raja dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para
pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar yang telah
dipenjara keluar.
Juga beberapa filsuf, dan scientist yang bodoh, yang Atheis dan tidak
percaya kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka menulis banyak buku
yang mendorong orang agar orang tidak patuh kepada siapa saja. Apa yang
mereka katakan adalah seperti ketika Allah swt menciptakan ego kita.
Ketika Ego ditanya oleh Allah, siapakah engkau, maka Ego
menjawab,”Engkau adalah engkau, dan Aku adalah aku,” begitu kata ego.
Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan berkata, “Aku
adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga.”
Dia tidak pernah mau menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai
Allah swr memerintahkannya untuk dikurung dalam api Neraka yang panas
Selama 1000 tahun. Tetapi dia tetap tidak datang dan menunduk.
Kemudian dia dipindahkan ke dalam Neraka yang dingin selama 1000 tahun
pula, tetapi ego tetap masih belum mau menunduk kepada Tuhannya. Sampai
ego itu ditempatkan di lembah kelaparan selama 1000 tahun, barulah
kemudian dia keluar dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan
Engkau adalah Tuhanku.” Itulah karakteristik utama dari ego kita-tidak
mau menundukkan kepala di hadapan orang lain.
Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah swt, bagaimana
dia mau menundukkan kepala dihadapan mahluk yang lain. Tidak akan!
Demikianlah karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain
sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, maka
merekapun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain, apalagi untuk
mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka.
“Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,” kata salah
seorang kepada yang lainnya, apalagi satu bangsa atau negara kepada
bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya
masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan
perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga
bumipun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia,
bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.
Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang
lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak
sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi
sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan merekapun, sebagai
gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik
keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas
tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat
liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.
Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di
sekeliling kita. Dinding dan tembok Ego yang tak dapat ditembus.
Hancurkanlah lebih dahulu tembok-tembok Ego kalian itu, agar kalian
mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Setelah kalian mampu
mengahancurkan dinding Ego itu, maka kalian akan menemukan bahwa
perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan
kemudian sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih
baik terhadap diri kalian.
Tetapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah
kalian yang buruk dan serakah, maka tak seorang pun mampu mendekatimu
dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan.
Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal pertama yang
harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu
rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus
pada semua orang.
Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian secara fisik dan
spiritual dan selamanya, maka ikutilah langkah para Awliya. Kita begitu
lemah untuk mengikuti langkah para Nabi dan Rasul, karena dibutuhkan
Iman yang kuat sehingga kalian bisa berpijak di jalur yang benar dengan
mantap. Jika kalian tidak mempunyai ‘qadama sidqin’, kalian belum
memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat melangkah di jalan yang
benar, tidak bisa.
Jalan yang benar menuntut langkah yang benar. Langkah yang benar
dilakukan oleh kaki yang benar. Kaki yang benar adalah milik hati yang
benar, jika hati kalian tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki
kalian untuk berpijak dengan benar. Oleh sebab itu
perhatikanlah-seseorang yang mempunyai langkah yang benar, ikutilah
mereka. Siapa pun dia, kalian boleh mengikutinya. Jika tidak, maka
kalian akan mengikuti langkah Setan dan siapa pun yang mengikuti Setan,
dia akhirnya akan sampai ke Neraka.
Wa min Allah at Tawfiq
Wassalam
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar