Selasa, 20 Agustus 2013

mengenalkanAllah pada anak

alau anak-anak kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan -meskipun barangkali ada yang demikian-tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak.
Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam suasana menakutkan dengan sifat-sifat Jalaliyah (Maha Besar). Sifat Jamaliyah (Maha Indah) Allah hampir-hampir tak mereka ketahui, kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Akibatnya, mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian menghampiri orang-orang tersayang. Astaghfirullah al ‘azhiim.
Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kekeliruan-meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita lalu kita mengeluarkan ancaman. Kita meneriakkan asma Allah, “Ayo., nggak boleh! Dosa! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”
Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka. “Eh. nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba.? Mubazir! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”
Nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara, “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”.
Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti pengguna kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka ‘menjauh’ karena telanjur memiliki kesan yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan Rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik. (Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar