Balighu ‘annii walaw aayah ” (Sampaikan dariku meski satu ayat, HR Bukhari & Turmudzi).
Hadits tersebut kita yakini shohih dan merupakan kewajiban setiap
muslim untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. juga dikenal bersifat
tabligh, senantiasa menyampaikan wahyu dari Allah SWT. secara sempurna
kepada ummatnya.
Kata balighu berasal dari kata baligha / ablagha yang bermakna
menyampaikan informasi, dalam berbagai bentuknya. Kata ‘annii dapat
bermakna “dariku”, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul saw, maupun
“tentang aku”, yakni tentang segala aspek peri kehidupan Rasul saw. Kata
aayah dapat bermakna tekstual (naskah ayat al Qur-an maupun Hadits)
maupun kontekstual (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT). Dengan demikian
hadits ini mewajibkan kita untuk mengabarkan tentang Islam yang sempurna
dalam keseluruhan dimensinya, meskipun baru satu sisi yang mampu kita
ungkapkan.
Karena makna bahasa tersebut, khususnya makna kata balighu, selama
ini hadits tersebut dimaknai sebatas perintah berda’wah, baik yang
dilakukan oleh para ‘alim ‘ulama dalam tabligh / kajian atau penulisan
buku, maupun kalangan awam dalam pergaulanan sehari-hari. Namun demikian
tidaklah semua muslim memiliki keterampilan, kesempatan dan kepercayaan
diri untuk menyampaikan informasi dalam bentuk yang dapat dipahami
orang lain, sehingga mereka tidak dapat mengamalkan hadits tersebut. Di
samping itu jika semua orang “harus” berbicara atau menulis, siapakah
lagi yang akan mendengarkan dan membaca?
Saya berpendapat hadits ini mungkin sebenarnya dapat bermakna lebih
luas. Kata balighu boleh jadi tidak hanya bermakna perintah menyampaikan
informasi, tetapi juga menyampaikan manfa’at / maslahat dari setiap
ayat / hadits kepada yang membutuhkannya. Dengan pengertian ini setiap
muslim sesungguhnya dapat mengamalkan hadits tersebut, apa pun keahlian
dan kesempatan yang dimilikinya. Produsen dapat menghasilkan manfaat
berupa barang atau jasa, distributor menghantarkannya ke pasar-pasar dan
pusat layanan atau langsung ke lokasi konsumen, sedangkan teknisi /
praktisi membantu mewujudkan manfaat tersebut sesuai kebutuhan konsumen
secara efektif.
Sebagai konsekuensinya, tentu saja semua muslim harus berupaya
memahami hikmah dari ayat-ayat suci al Qur’an dan hadits-hadits Rasul
saw. sejauh dan sebanyak yang mampu dipahaminya. Selanjutnya kita
berusaha sekuat tenaga mewujudkan hikmah / manfaat ayat tersebut sesuai
dengan segala sumber daya dan kemampuan yang telah diamanahkan Allah SWT
kepada kita. Perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi mutakhir menjadi
penting artinya dalam memfasilitasi proses transformasi dari kalam al
Khaliq menjadi manfaat nyata bagi makhluq tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar