Dari Barrak ‘Azib: Kami bersama Rasulullah saw mengiringi jenazah
sahabat Anshar. Setelah sampai di pemakaman beliau duduk dan kami pun
duduk di sekitarnya seperti ada burung di kepala kami. Kemudian beliau
mengangkat kepala seraya bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah
dari siksa kubur!”
Beliaupun mengulanginya hingga tiga kali. Kemudian beliau meneruskan
perkataannya bahwa orang mukmin ketika akan mati didatangi malaikat yang
wajahnya putih seperti matahari. mereka duduk di depannya sambil
memegang kafan surga.
Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan
menyeru padanya, “Hai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan
keridlaan Allah swt”. Lalu ruhnya mengalir keluar seperti tetesan air,
ia diterima dan dimasukkan kafan, kemudian dibawa keluar. Baunya harum
seperti minyak kasturi untuk selanjutnya dibawa naik. Setiap melewati
kumpulan para malaikat mereka bertanya, “Ruh siapakah yang harum ini?”
Pertanyaan itu dijawab dengan ruhnya fulan bin fulan.
Hal demikian terus berlangsung hingga ke langit. Para penghuninya
menyambut baik kedatangan ruh terebut. Setiap menaiki jenjangnya,
malaikat Muqarrabun mengantarkan hingga langit ke tujuh. Allah
berfirman, “Tulislah ketentuannya di surga ‘Illiyyin!”. Lalu
dikembalikan ke bumi karena dari sanalah Kami ciptakan dan ke dalamnya
Kami pulangkan. Pada saatnya akan Kami bangkitkan. Maka bergabunglah
kembali ruh tersebut dengan jasadnya di dalam kubur.
Tidak lama kemudian datanglah malaikat Munkar-Nakir seraya bertanya,
“Siapakah Tuhanmu?” Dijawab: Allah Tuhanku. “Apa agamamu?” Dijawab:
Islam agamaku. “Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di
tengah-tengah kamu?” Dijawab: Beliau utusan Allah. “Dari mana
pengetahuan itu?” Dijawab: Aku belajar dari kitab Allah, iman kepadanya
dan membenarkannya.
Maka datanglah panggilan, “Betul hambaku, berikan kepadanya hamparan
dan pakaian surga. Bukakan pintu yang menuju surga agar harum dan
hawanya ia nikmati. Lapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Lalu
datanglah sesosok yang tampan lagi harum baunya dan berkata: “Terimalah
kabar gembira yang dulu dijanjikan Tuhan.” Dijawab: Siapa sebenarnya
dirimu itu? “Aku adalah jelmaan amal baikmu dulu.” Dijawab: Ya Allah,
segerakan hari Kiamat agar aku dapat cepat-cepat berkumpul bersama
keluarga dan sahabat-sahabatku.
Kemudian Nabi saw melanjutkan ceritanya. Sedangkan bagi orang kafir,
ketika akan mati. Mereka didatangi oleh malaikat yang hitam mukanya lagi
hitam pakaiannya dan mereka duduk di depannya. Tidak lama kemudian
datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan berkata, “Hai ruh
jahat. Keluarlah menuju kemarahan Allah. Tersebarlah ke semua anggota
tubuhnya.” Lalu ruh dicabut, seperti mencabut besi dari bulu basah. Urat
dan ototnya putus-putus. Ruh itu diterima dan dimasukkan ke dalam kain
hitam untuk dibawa keluar. Baunya busuk seperti bangkai. Lalu ruh itu
dibawa naik. Setiap melewati kumpulan malaikat, mereka bertanya, “Ruh
jahat siapakah yang busuk itu?” Pertanyaan itu dijawab dengan, “Ruh
fulan bin fulan”. Jawaban itu terdengar sampai ke langit. Ketika akan
masuk, pintu tidak dibukakan.
Nabi saw pun membaca ayat “…sekali-kali tidak akan dibukakan
pintu-pintu langit buat mereka. Dan tidak dapat masuk surga kecuali jika
ada unta yang masuk ke dalam lubang jarum ini (sesuatu hal yang
mustahil). Demikianlah balasan bagi orang-orang yang dhalim.” (QS al-A’raf: 40)
Lalu perintah Allah, “Tulislah ketentuannya di neraka Sijjin, dan lemparkanlah ruh itu.” Allah berfirman “Barangsiapa
menyekutukan Allah. Tidak ada bedanya seperti terjun dari langit lalu
disambar burung besar atau dibanting angin ke jurang curam sejauhnya.” (QS al-Hajj: 31)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar