Selasa, 02 April 2013

siksa kubur dan penderitaanyya

Dari Barrak ‘Azib: Kami bersama Rasulullah saw mengiringi jenazah sahabat Anshar. Setelah sampai di pemakaman beliau duduk dan kami pun duduk di sekitarnya seperti ada burung di kepala kami. Kemudian beliau mengangkat kepala seraya bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur!”
Beliaupun mengulanginya hingga tiga kali. Kemudian beliau meneruskan perkataannya bahwa orang mukmin ketika akan mati didatangi malaikat yang wajahnya putih seperti matahari. mereka duduk di depannya sambil memegang kafan surga.
Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan menyeru padanya, “Hai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridlaan Allah swt”. Lalu ruhnya mengalir keluar seperti tetesan air, ia diterima dan dimasukkan kafan, kemudian dibawa keluar. Baunya harum seperti minyak kasturi untuk selanjutnya dibawa naik. Setiap melewati kumpulan para malaikat mereka bertanya, “Ruh siapakah yang harum ini?” Pertanyaan itu dijawab dengan ruhnya fulan bin fulan.
Hal demikian terus berlangsung hingga ke langit. Para penghuninya menyambut baik kedatangan ruh terebut. Setiap menaiki jenjangnya, malaikat Muqarrabun mengantarkan hingga langit ke tujuh. Allah berfirman, “Tulislah ketentuannya di surga ‘Illiyyin!”. Lalu dikembalikan ke bumi karena dari sanalah Kami ciptakan dan ke dalamnya Kami pulangkan. Pada saatnya akan Kami bangkitkan. Maka bergabunglah kembali ruh tersebut dengan jasadnya di dalam kubur.
Tidak lama kemudian datanglah malaikat Munkar-Nakir seraya bertanya, “Siapakah Tuhanmu?” Dijawab: Allah Tuhanku. “Apa agamamu?” Dijawab: Islam agamaku. “Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah-tengah kamu?” Dijawab: Beliau utusan Allah. “Dari mana pengetahuan itu?” Dijawab: Aku belajar dari kitab Allah, iman kepadanya dan membenarkannya.
Maka datanglah panggilan, “Betul hambaku, berikan kepadanya hamparan dan pakaian surga. Bukakan pintu yang menuju surga agar harum dan hawanya ia nikmati. Lapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah sesosok yang tampan lagi harum baunya dan berkata: “Terimalah kabar gembira yang dulu dijanjikan Tuhan.” Dijawab: Siapa sebenarnya dirimu itu? “Aku adalah jelmaan amal baikmu dulu.” Dijawab: Ya Allah, segerakan hari Kiamat agar aku dapat cepat-cepat berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabatku.
Kemudian Nabi saw melanjutkan ceritanya. Sedangkan bagi orang kafir, ketika akan mati. Mereka didatangi oleh malaikat yang hitam mukanya lagi hitam pakaiannya dan mereka duduk di depannya. Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan berkata, “Hai ruh jahat. Keluarlah menuju kemarahan Allah. Tersebarlah ke semua anggota tubuhnya.” Lalu ruh dicabut, seperti mencabut besi dari bulu basah. Urat dan ototnya putus-putus. Ruh itu diterima dan dimasukkan ke dalam kain hitam untuk dibawa keluar. Baunya busuk seperti bangkai. Lalu ruh itu dibawa naik. Setiap melewati kumpulan malaikat, mereka bertanya, “Ruh jahat siapakah yang busuk itu?” Pertanyaan itu dijawab dengan, “Ruh fulan bin fulan”. Jawaban itu terdengar sampai ke langit. Ketika akan masuk, pintu tidak dibukakan.
Nabi saw pun membaca ayat “…sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit buat mereka. Dan tidak dapat masuk surga kecuali jika ada unta yang masuk ke dalam lubang jarum ini (sesuatu hal yang mustahil). Demikianlah balasan bagi orang-orang yang dhalim.” (QS al-A’raf: 40)
Lalu perintah Allah, “Tulislah ketentuannya di neraka Sijjin, dan lemparkanlah ruh itu.” Allah berfirman “Barangsiapa menyekutukan Allah. Tidak ada bedanya seperti terjun dari langit lalu disambar burung besar atau dibanting angin ke jurang curam sejauhnya.” (QS al-Hajj: 31)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar