Fir’aun? Setiap zaman mengenang nama ini. Bukan nama yang indah
tetapi sangat popular. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semua
lekat dengan kebengisan, kekejaman, tirani, kecongkakan dan sederet
label jahat lainnya. Gambaran kekerdilan di balik nama besar fir’aun
baru telah menjadi sebuah nama manis untuk didengar.
Walaupun seluruh jagad mencela, menghina, bahkan melaknat nama ini,
akan tetapi fir’aun-fir’aun baru tetap muncul kehadapan. Dengan berbagai
tameng, fir’aun baru berpangkat tinggi tetap saja hadir dengan tipu
daya yang lebih dahsyat. Prakteknya tidak lagi dengan menggunakan
pedang, cambuk, dan alat-alat yang menyiksa lainnya. Tapi menggunakan
tipu daya ekonomi dengan memiskinkan rakyat.
Banyak hak rakyat di rebut dan di curi. Hukum menjadi jaminan bagi
para fir’aun untuk menutupi diri. Sehingga rakyat tetap saja di buat
percaya dan bergantung pada pribadi seperti itu. Apakah pribadi fir’aun
ini yang disebut cerdas?
Apakah cerdas itu?
Apakah cerdas adalah orang yang hidupnya bergelimpang harta,
kemana-mana dengan membawa puncak dunia berupa rumah megah dan mobil
mewah, yang malah membuat ia terhina. Pikirkanlah? Saat ini begitu
banyak orang kaya, tetapi para tetangga bahkan saudara mereka hidup
dalam kesulitan. Orang-orang kaya tersebut malah menutup mata dan
telinga seolah tidak pernah melihat dan mendengar jeritan rakyat jelata
yang butuh perhatian dan bantuan.
Apakah hati mereka telah tertutup? Atau karena tidak pernah mendengar teguran Rasulullah saw “Barang siapa tidak menaruh perhatian terhadap masalah kaum muslimin, bukan dari golongan mereka.” (Al Hadits).
Apakah cerdas itu?
Apakah cerdas adalah yang terkenal, namanya familiar ditengah
masyarakat, orang yang sering berbicara, baik itu di mimbar atau tampil
dilayar kaca? Tengoklah? Banyak manusia abad ini yang pintar berkata,
beragumen, dan beretorika, mudah menipu lewat keindahan berbicara dan
rupa, tetapi tidak segan-segan memakan dan menelan mangsa dengan kata
indah dan wajah rupawan itu.
Tengoklah para elit politik yang rajin dan pintar mengeluarkan
kata-kata indah saat berkampanye, tetapi yang sebenarnya adalah bisa
untuk membunuh saudaranya. Apakah ini yang disebut cerdas?
Lalu apakah cerdas itu?
Dalam sebuah riwayat dari Syadad bin Aus ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda “Orang
yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari
setelah kematian. Orang yang kurang perhitungan adalah orang yang
mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni
dan memaafkannya”.
Dalam riwayat lain dikatakan, “Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian”. (HR. Tirmidzi)
Hadits diatas mengingatkan manusia tentang kepintaran dan kecerdasan
hakiki yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat. Orang
pintar dan cerdas adalah orang yang bersiap-siap mengumpulkan bekal
untuk suatu masa setelah kematian. Orang itulah yang Rasulullah saw
sebut dengan al-kais. Al-Kais adalah orang yang berfikir jauh kedepan
untuk masa depan kehidupannya, bahkan untuk kehidupan yang kekal dan
abadi. Orang pintar seperti yang disebut Rasulullah saw tidak terpancing
untuk melakukan pekerjaan atau perbuatan yang hanya memberikan dampak
pendek, apalagi yang tidak berdampak apa-apa atau merugikan.
Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..
Orang yang cerdas itu adalah orang yang menjadikan Allah sebagai
pengawas terhadap ilmu. Kita memuji Allah swt yang telah memuliakan dan
menjadikan kita sebagai penuntut ilmu, kemudian kita memohon kepada
Allah swt agar senantiasa membukakan pintu-pintu-Nya bagi kita. Dan
pintu paling agung yang dibukakan Allah swt kepada kita adalah Dia
menjadikan kita sebagai hamba-Nya.
Banyak manusia menyia-nyiakan Allah dengan perbuatan keji dan dosa
karena kecintaan yang sangat pada dunia sehingga Allah akan
menyia-nyiakan mereka didunia dan diakhirat. Layaknya Fir’aun yang
durjana yang menyia-nyiakan Allah, sehingga Allah melenyapkannya didasar
lautan.
Allah swt berfirman, “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang
tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi
pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah
kerjakan”. (Al-An’am:120).
Mungkin dosa yang kelihatan, terkadang kita meninggalkannya karena
takut kepada pengawasan manusia, namun dosa yang tersembunyi tidak akan
ditinggalkan, melainkan karena takut kepada Allah.
Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..
Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghidupkan sunnah
Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak akan dapat
kita realisasikan dengan sempurna, kecuali dengan mengkaji sirah
(perjalanan hidup) Rasulullah saw dan merenungkan semua peristiwa serta
nuansa pendidikan (tarbiyah) yang memperhatikan realita generasi
sekarang ini. Dia adalah seorang yang ma’shum (terjamin kesuciannya).
Allah telah menjadikannya sebagai suri tauladan bagi kita. Dia adalah
orang yang jujur, guru yang sejati, dan komandan yang ulung. Allah swt
berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.
Al Ahzab:21).
Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku…
Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa menjaga waktu,
supaya jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Allah swt berfirman, “Maka
apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah selain Dia,
Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mukminun:115-116).
Dan ingatlah akan sabda Rasulullah berikut, “Kedua kaki seorang
hamba itu tidak akan lenyap, sehingga di ditanya tentang empat perkara:
Tentang keremajaannya, kemana ia habiskan; tentang hartanya, dari mana
dan kemana dia belanjakan; tentang umurnya, untuk apa di habiskan; dan
tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan dengannya.” (HR. At Tirmidzi)
Fahamilah, wahai saudaraku..
Kecerdasan seperti inilah yang mengantarkan kita kepada pribadi yang
sholeh. Jika ada akibat, pastilah ada sebab, dan jika ada reaksi,
pastilah ada aksi. Sholeh adalah akibat dari pribadi yang cerdas
sebagaimana Cerdas merupakan suatu aksi (perbuatan) yang menimbulkan
kesholehan. Pancaran pribadi sholeh adalah keimanan. Karena umat yang
hidup tanpa iman, bagaikan binatang melata. Madrasah tanpa iman,
bagaikan asrama yang rapuh dan hancur. Hati tanpa iman bagaikan seonggok
daging bangkai.
Seorang guru tanpa iman, bagaikan sekujur tubuh yang lumpuh dan tidak
dapat bergerak. Buku tanpa iman, tak lebih daripada sekadar
lembaran-lembaran yang berbaris. Dan ceramah tanpa iman, bagaikan
perkataan tanpa makna. Maka, mulailah hidup cerdas dan raihlah
kesholehan hamba yang beriman, wahai saudaraku…
Wallahu ‘alam bish showab
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar