Selasa, 19 Februari 2013

idul fitri

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai kepada Abu Sa’id Al-Khudri Ra., bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww. memerintahkan kepada kita pada hari Raya Fithri untuk memberikan fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. Dan Beliau juga bersabda: “Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir, maka dia bebas dari neraka, dan barangsiapa membayar fitrah kepada dua orang fakir, maka dia ditetapkan Allah bebas dari syirik dan sifat munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, maka berhak baginya masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari cantik yang jeli matanya”.
Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra., sebuah hadist marfu’ yang panjang sehingga Beliau bersabda: “Apabila tiba waktu pagi hari Raya Fithri, Allah mengutus Malaikat pada setiap negri, lalu mereka turun ke bumi dan berdiri pada mulut setiap jalan, kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk, selain jin dan manusia: “Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia memberikan pemberian yang besar dan mengampuni banyak dosa”, Apabila mereka telah tampak berada pada tempat shalatnya, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan buruh yang sudah mau bekerja?”, Malaikat menjawab: “Balasannya adalah disempurnakan upahnya”. Allah berfirman: “Aku mempersaksikan kepada kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah menjadikan puasa Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan ampunan-Ku”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Mintalah kepada-Ku, maka demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada kalian meminta kepada-Ku pada hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat melainkan Aku memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada Aku menghina dan membuka aib kalian, pulanglah kalian dalam keadaan terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi menuntut keridhaan-Ku dan Aku telah ridha pula kepada kalian”. Maka, mendengar firman Allah itu, Malaikat merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada umat Muhammad Saww. Ini”.
Nabi Saww. telah bersabda: “Man ahyaa laylata’l-’iidi lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati manusia mati”.
Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: “Man ahyaa laylata’l fithri wa laylata’l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan malam hari Raya Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati manusia seluruhnya menjadi mati.
Mu’adz ra. berkata: “Man Ahyaal layaa li’l arba’a wa jabat lahul jannatu : Laylatal tarwiyati wa laylata ‘arafata wa laylatan nahri wa laylatal fithri. Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat, maka berhak baginya masuk ke dalam surga, yaitu : malam Tarwiyah (8 Dzu’l-hijjah), malam ‘Arafah (9 Dzu’l-hijjah), malam Nahr/Idul Adha (10 Dzu’l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)”. (HR. Ibnu Asakir)
Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang dimiliki.
Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat dipercaya, bahwa sesungguhnya hari itu disebut hari raya hanyalah karena pada hari itu Allah Swt. mengulangi pemberian kesenangan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada orang-orang Mu-min: “Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan ampunan”. Di dalam hadits yang lain diterangkan, bahwa apabila tiba Hari Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk melakukan shalat), maka Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan karena Aku kalian shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan daripada-Ku!”.
Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada hari Raya Fithri, menanam pohon Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu juga pada hari Raya Fithri.
Kata Anas bin Malik ra.: “Orang yang beriman itu mempunyai lima Hari Raya: (1.) Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman dan tidak dicatat padanya suatu dosa, maka itu adalah Hari Raya. (2.) Hari dia keluar dari dunia ya’ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan benteng dari tipu daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. (3.) Hari dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari resikonya hari Qiyamat serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan dari Malaikat Zabaniyah, maka itu adalah Hari Raya. (4.) Hari dia masuk kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah Hari Raya. (5.) Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. (Abul-Laits)
Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: “Beliau Nabi Saww. bersabda: “Sesungguhnya Iblis ‘alaihil la’nah itu berteriak pada tiap-tiap Hari Raya, maka para ahlinya/tentaranya sama berkumpul disekelilingnya sambil berkata: “Wahai baginda kami, siapakah yang menjadikan baginda murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!”. Iblis berkata: “Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah mengampuni umat ini. Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan segala macam yang lezat-lezat, dengan syahwat dan dengan minum arak, sehingga Allah murka kepada mereka”. Maka bagi orang yang berakal hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari pada segala macam nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu bertaat.
Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada Hari Raya Fithri dengan bersedekah dan amalan yang baik yang bagus daripada shalat, zakat, bertasbih (membaca Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena sesungguhnya hari ini Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian, mengabulkan do’amu dan melihat kamu sekalian dengan kasih sayang”. (Durratul Waa’izdiina)
Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: “Subhanallaahi Wa Bihamdihi”, pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan kepada orang-orang Islam yang sudah mati, maka masuk ke dalam setiap kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya seribu cahaya di dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari orang-orang yang sudah mati melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba-Mu, dan jadikanlah surga sebagai balasannya”. Lalu Allah Swt. berfirman: “Saksikanlah, sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.
Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa memohon ampun kepada Allah Swt. pada Hari Raya sesudah shalat fardhu Shubuh sebanyak seratus kali, maka di dalam buku catatan amalnya tidak ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat berada di bawah ‘Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt.
Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. mencatat setiap langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa memuliakan kedua orangtuannya, maka Allah Swt. memuliakan kepadanya. Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. menghinanya besok di hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang fakir dan memberinya suatu makanan yang disukainya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya sebuah kota dari cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga. Barangsiapa kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan tenang dan berwibawa, maka Allah Swt. akan memberi kepadanya nanti pada hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. Barangsiapa melakukan perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: “Tidakkah engkau malu kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan rahmat dan kasihan, sedang kamu semakin jauh dari-Ku. Bertaubatlah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu, dan Aku jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa memperluas dirinya dan keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari Raya, maka Allah Swt. memperluas pintu kecukupan padanya dan menutup kefakiran daripadanya”.
Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu bisittim-min syawwaaliin faka’annamaa shaamad-dahra kullahu. Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah dia berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad)
Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: “Shiyaamu syahri ramadhaana bi’asyri ‘asyhurin, wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni. fadzaa lika shiyaamus-sanati. “Puasa bulan Ramadhan memadai dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari memadai dengan puasa dua bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun”.
Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu sittaamin syawwaalin kaana kashaumid-dahri. Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan syawwal, maka menyamai puasa selamanya (sepanjang masa)”. (HR. Ahmad dan Muslim)
Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka menyamai puasa 300 Hari dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari jadi berjumlah 360 hari (kurang lebih 1 tahun) karena setiap amal itu dilipatkan 10 kali lipat.
Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: “Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal, maka keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut ibunya“. (HR.At-Thabarani)
Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari Raya yang penuh berkah, rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt. dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah pada malam (mustajab) Idul Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir Istigfar seratus kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur atau ashar membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita hadiahkan pahalanya kepada muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 hari (berturut-turut) agar kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya Allah kita dapat memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan (pintu kesegaran) bagi orang-orang yang senang/suka berpuasa karena Allah Swt.
Wallaahu a’lam bi shawab….
***
Dikutip dari: * Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali. * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-’Adawiy * Irsyadul’ibad Ilasabilirrasyad –> H. Salim Bahreisy * Fatawa Rasulullah Saw. –> Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar