Diriwayatkan oleh Ibnu ‘I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai
kepada Abu Sa’id Al-Khudri Ra., bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww.
memerintahkan kepada kita pada hari Raya Fithri untuk memberikan
fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. Dan
Beliau juga bersabda: “Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir,
maka dia bebas dari neraka, dan barangsiapa membayar fitrah kepada dua
orang fakir, maka dia ditetapkan Allah bebas dari syirik dan sifat
munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, maka
berhak baginya masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari
cantik yang jeli matanya”.
Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra.,
sebuah hadist marfu’ yang panjang sehingga Beliau bersabda: “Apabila
tiba waktu pagi hari Raya Fithri, Allah mengutus Malaikat pada setiap
negri, lalu mereka turun ke bumi dan berdiri pada mulut setiap jalan,
kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk,
selain jin dan manusia: “Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan
Yang Maha Pemurah. Dia memberikan pemberian yang besar dan mengampuni
banyak dosa”, Apabila mereka telah tampak berada pada tempat shalatnya,
maka Allah berfirman kepada malaikat: “Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan
buruh yang sudah mau bekerja?”, Malaikat menjawab: “Balasannya adalah
disempurnakan upahnya”. Allah berfirman: “Aku mempersaksikan kepada
kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah menjadikan puasa
Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan
ampunan-Ku”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Mintalah kepada-Ku, maka
demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada kalian meminta kepada-Ku pada
hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat
melainkan Aku memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada
Aku menghina dan membuka aib kalian, pulanglah kalian dalam keadaan
terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi menuntut keridhaan-Ku
dan Aku telah ridha pula kepada kalian”. Maka, mendengar firman Allah
itu, Malaikat merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada
umat Muhammad Saww. Ini”.
Nabi Saww. telah bersabda: “Man ahyaa laylata’l-’iidi lam yamut
qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam Hari
Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka hatinya tidak akan mati pada hari
ketika semua hati manusia mati”.
Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: “Man
ahyaa laylata’l fithri wa laylata’l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma
tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan
malam hari Raya Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati
manusia seluruhnya menjadi mati.
Mu’adz ra. berkata: “Man Ahyaal layaa li’l arba’a wa jabat lahul
jannatu : Laylatal tarwiyati wa laylata ‘arafata wa laylatan nahri wa
laylatal fithri. Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat,
maka berhak baginya masuk ke dalam surga, yaitu : malam Tarwiyah (8
Dzu’l-hijjah), malam ‘Arafah (9 Dzu’l-hijjah), malam Nahr/Idul Adha (10
Dzu’l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)”. (HR. Ibnu Asakir)
Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang dimiliki.
Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat
dipercaya, bahwa sesungguhnya hari itu disebut hari raya hanyalah karena
pada hari itu Allah Swt. mengulangi pemberian kesenangan dan
kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada
orang-orang Mu-min: “Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan
ampunan”. Di dalam hadits yang lain diterangkan, bahwa apabila tiba Hari
Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk melakukan shalat), maka Allah
berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan
karena Aku kalian shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan
daripada-Ku!”.
Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada
hari Raya Fithri, menanam pohon Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih
Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu juga pada hari Raya Fithri.
Kata Anas bin Malik ra.: “Orang yang beriman itu mempunyai lima
Hari Raya: (1.) Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman
dan tidak dicatat padanya suatu dosa, maka itu adalah Hari Raya. (2.)
Hari dia keluar dari dunia ya’ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan
benteng dari tipu daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. (3.) Hari
dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari
resikonya hari Qiyamat serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan
dari Malaikat Zabaniyah, maka itu adalah Hari Raya. (4.) Hari dia masuk
kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah Hari Raya.
(5.) Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. (Abul-Laits)
Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: “Beliau Nabi Saww.
bersabda: “Sesungguhnya Iblis ‘alaihil la’nah itu berteriak pada
tiap-tiap Hari Raya, maka para ahlinya/tentaranya sama berkumpul
disekelilingnya sambil berkata: “Wahai baginda kami, siapakah yang
menjadikan baginda murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!”. Iblis
berkata: “Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah
mengampuni umat ini. Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan
segala macam yang lezat-lezat, dengan syahwat dan dengan minum arak,
sehingga Allah murka kepada mereka”. Maka bagi orang yang berakal
hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari pada segala macam
nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu
bertaat.
Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah
kamu sekalian pada Hari Raya Fithri dengan bersedekah dan amalan yang
baik yang bagus daripada shalat, zakat, bertasbih (membaca
Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena
sesungguhnya hari ini Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian,
mengabulkan do’amu dan melihat kamu sekalian dengan kasih sayang”. (Durratul Waa’izdiina)
Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: “Subhanallaahi
Wa Bihamdihi”, pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan
kepada orang-orang Islam yang sudah mati, maka masuk ke dalam setiap
kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya seribu cahaya di
dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari
orang-orang yang sudah mati melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat:
“Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba-Mu, dan jadikanlah
surga sebagai balasannya”. Lalu Allah Swt. berfirman: “Saksikanlah,
sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.
Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa
memohon ampun kepada Allah Swt. pada Hari Raya sesudah shalat fardhu
Shubuh sebanyak seratus kali, maka di dalam buku catatan amalnya tidak
ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat berada di
bawah ‘Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt.
Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka
Allah Swt. mencatat setiap langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa
memuliakan kedua orangtuannya, maka Allah Swt. memuliakan kepadanya.
Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. menghinanya besok di
hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang
fakir dan memberinya suatu makanan yang disukainya pada Hari Raya
Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya sebuah kota dari
cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga.
Barangsiapa kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan
tenang dan berwibawa, maka Allah Swt. akan memberi kepadanya nanti pada
hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. Barangsiapa melakukan
perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: “Tidakkah
engkau malu kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan
rahmat dan kasihan, sedang kamu semakin jauh dari-Ku. Bertaubatlah
kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu, dan Aku
jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa
memperluas dirinya dan keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari
Raya, maka Allah Swt. memperluas pintu kecukupan padanya dan menutup
kefakiran daripadanya”.
Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: “Man shaama
ramadhaana wa ‘atba’ahu bisittim-min syawwaaliin faka’annamaa
shaamad-dahra kullahu. Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu
mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah dia
berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad)
Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: “Shiyaamu syahri
ramadhaana bi’asyri ‘asyhurin, wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni.
fadzaa lika shiyaamus-sanati. “Puasa bulan Ramadhan memadai dengan
puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari memadai dengan puasa dua
bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun”.
Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: “Man shaama
ramadhaana wa ‘atba’ahu sittaamin syawwaalin kaana kashaumid-dahri.
Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan
syawwal, maka menyamai puasa selamanya (sepanjang masa)”. (HR. Ahmad dan Muslim)
Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka
menyamai puasa 300 Hari dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari
jadi berjumlah 360 hari (kurang lebih 1 tahun) karena setiap amal itu
dilipatkan 10 kali lipat.
Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: “Siapa
yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal,
maka keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut
ibunya“. (HR.At-Thabarani)
Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari
Raya yang penuh berkah, rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt.
dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah pada malam (mustajab) Idul
Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir Istigfar seratus
kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur
atau ashar membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita
hadiahkan pahalanya kepada muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah,
pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 hari (berturut-turut) agar
kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya
Allah kita dapat memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama
Ar-Rayyan (pintu kesegaran) bagi orang-orang yang senang/suka berpuasa
karena Allah Swt.
Wallaahu a’lam bi shawab….
***
Dikutip dari: * Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali. * Riyadhus
Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman
Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits
Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-’Adawiy * Irsyadul’ibad
Ilasabilirrasyad –> H. Salim Bahreisy * Fatawa Rasulullah Saw. –>
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar